Di Hayes Valley, Menghapus Hamartia

0
95
di hayes valley membunuh hamartia

“Tidak usah lagi dekat-dekat dengan Dewi, Pa.”

“Kenapa? Kamu cemburu?”

“Bukan itu. Sekampung sudah bicarain dia lho. Perempuan gak baik,”

“Jangan begitu, Ma. Kita kan tidak boleh menghakimi orang lain. Papa kan musti bicarakan kelanjutan bisnis kateringnya dengan perusahaan. Masa papa gak boleh ketemu Dewi. Apalagi ini Managing Director malah minta ketemu Dewi.”

“Telepon kek. Pokoknya tidak usah ketemu.”

Rendi geleng-geleng kepala melihat istrinya yang sejak pagi membicarakan Dewi. Perempuan itu adalah janda yang memang sedang banyak jadi bahan pembicaraan orang kampung. Tapi, ia tetap harus menyampaikan pesan bosnya secara langsung. Ia tak mau ada kesalahpahaman.

 Rumah Dewi, dekat Staisun Solo Balapan

Rendi mematung di depan sebuah rumah berwarna kuning yang catnya sudah memudar. Di sana-sini lebih banyak noda-noda hitam dan hijau bekas air hujan atau sisa lelehan air karena atap yang bocor. Kaca jendelanya pun kotor. Dewi tampaknya tak terlau peduli dengan tampilan rumahnya.

Lelaki itu sebenarnya bingung. Selesai jam kantor dia masih menimbang-nimbang apakah mau langsung ketemu Dewi atau meneleponnya saja. Pak Sofyan, Managing Director-nya sudah bolak-balik menanyakan kapan Dewi bisa diajak ke kantor.

Pak Sofyan senang dengan masakan dewi. Katering kantor untuk makan siang karyawan atau meeting, perusahaan selalu memesan dari perempuan itu.

“Pak Rendi?”

“Eh, oh, Iya, Mba Dewi.” Rendi salah tingkah kebingungan melihat Dewi yang tiba-tiba ada di belakangnya.

“Mari masuk, Pak. Saya baru dari apotek. Anak saya yang kecil sedang sakit.”

“Wah, sedang repot sekali berarti ya, Mba.’

“Begitu lah, Pak. Mangga pinarak. Silakan masuk. Maaf berantakan.”

“Sebentar saja, Mba. Pak Sofyan menanyakan terus. Kapan Mba Dewi ada waktu untuk bertemu beliau.”

Perempuan di depannya tampak bingung menjawab dan Rendi mengetahuinya. “Mungkin tidak harus dalam waktu dekat, Mba. Yang penting saya dikabari, biar saya bisa jawab kalau Pak Sofyan tanya.”

Dewi mengulum senyuman. Baik, Pak. Mungkin nanti setelah anak saya sembuh. Maklum, anak saya yang kecil juga tidak ada yang menjaga. Kalau kakaknya belum pulang sekolah, ya saya belum bisa kemana-mana.”

Rendi paham dan pertemuan senja itu adalah pertemuan terakhirnya dengan Dewi. Perempuan cantik yang pintar memasak tak ia lihat lagi di kampungnya. Entah pindah kemana. Seminggu setelah pertemuan itu, Rendi mendengar kabar bahwa Dewi pindah rumah. Namun, tak ada yang tahu perempuan dan 2 anaknya itu pindah kemana.

Satu hal yang Rendi dengar lagi, orang-orang kampung lega, karena akhirnya “si perempuan gak bener” itu pergi. Rendi menghela napas panjang. Dalam hati ia menaruh belas kasihan pada Dewi. Bolak-balik ia obrolkan hal ini dengan Nay, istrinya.

Perlahan Nay bisa memahami kesulitan yang dialami Dewi, dan ia mulai sadar, bahwa tidak seharusnya ia ikut-ikutan menghakimi seperti sebagian besar orang kampung dimana mereka tinggal. Perempuan itu mulai merencanakan sesuatu. Nay masih menyimpan nomer HP Dewi. Ia berharap Dewi masih bisa dihubungi.

Sambil memeriksa nomer-nomer HP, Nay teringat lagi kalimat suaminya, “Kita ini siapa,Ma. Kita saja belum tentu layak di hadapan Tuhan. Sebaiknya kita tidak ikut menghakimi atau menilai Mba Dewi. Lihat hidupnya jadi semakin sulit karena label yang orang-orang kampung berikan padanya.”

See also  Saat Apa-apa Bisa Tiba-tiba Tidak Ada: Sebuah Renungan Kala Pandemi (1)

Nay menarik napas panjang. Ia menyadari betapa dirinya sudah keterlaluan. Perempuan berambut ikal itu seketika menundukkan kepala. Ada tetes air mata di antara lantunan doa-doanya.

Ia teringat lagi tentang Dewi yang pernah sakit parah karena janin yang dikandungnya tak bisa dikeluarkan. Dewi hanya terbaring lemah, sementara anaknya yang masih kelas 5 SD lah yang merawatnya.

Waktu itu anak terkecilnya baru berusia sekitar 11 bulan. Jalan pun belum bisa, tapi Dewi sudah menggugurkan kandungannya, hasil hubungan entah dengan lelaki yang mana. Seorang saudara jauh yang membantu merawat bayinya waktu itu, sampai Dewi bisa bangun dari tempat tidur.

Tak ada yang menyangka Dewi akan kembali sehat seperti terakhir ia bertemu sebelum perempuan itu pindah, entah kemana. Dewi bahkan berjanji menciumnya jika ia bisa sembuh. Suatu pagi, Nay dikejutkan oleh penampilan Dewi yang segar bugar berdiri di hadapannya, bersiap memberikan ciuman pipi seperti janjinya.

Masa kelam Dewi

Hampir 6 bulan berlalu sejak kepergiannya dari Kampung Cinderejo. Ia tahu sudah jadi bahan omongan. Ia sadar siapa dirinya. Ia merasa tak layak tinggal dimanapun. Namun, jika ia terus mendengarkan omongan orang, anak-anaknya tak akan bisa makan dan dirinya pun tak bisa bertahan hidup.

Dimanapun Dewi tinggal, ia selalu jadi bahan omongan, bahan cemoohan dan dibenci oleh tak hanya ibu-ibu, tetapi siapapun yang merasa hidupnya paling suci. Dewi sadar, kecantikan dan kemolekan tubuhnya bisa mengancam rumah tangga siapa saja. Tapi di kampung itu, ia tak ingin menghancurkan siapa-siapa. Ia hanya sedang berjuang untuk bertahan hidup.

“Aku memang tidak suci, tapi cintaku tulus pada anak-anakku. Aku ingin mereka jadi orang. Tak sepertiku sekarang.” Bisik Dewi pada dirinya sendiri di depan kaca sambil menitikkan air mata.

Ia kini tinggal di sebuah rumah mungil di daerah Universitas Selamet Riyadi. Seorang Janda pula yang memberinya tumpangan. Ia dan anak-anaknya sedang berteduh di suatu pos ronda ketika ibu itu lewat. Hujan deras dan anak-anaknya kedinginan. Bu Ranti menawari mereka berteduh di rumahnya.

Sambil minum teh hangat, Mbah Ranti menawarinya tinggal bersama. Anak dan cucu Mbah Ranti tak pernah ada yang menengok sejak dia kehilangan hartanya beberapa tahun lalu. Ia seorang diri. Senang sekali jika ada yang menemani.

Tentu saja Dewi senang dan bersyukur atas tawaran itu. Ia juga tak tahu akan kemana. Uang sudah tak ada, tinggal untuk makan beberapa hari.

Di sini lah sekarang Dewi dan kedua anaknya. Ia tak punya modal untuk membuka usaha. Satu-satunya yang bisa ia lakukan untuk menghasilkan uang adalah dengan menjual dirinya.

Malam ini, anak-anaknya sudah tertidur lelap. Mbah Ranti juga baru saja masuk kamar. Ia bisa pergi untuk menyambung hidup. Tapi matanya masih sembab. Hari ini entah mengapa ia begitu sentimental. Seperti ada yang berontak dari dalam dirinya. Namun ia harus mencari uang.

See also  4 Amazing Months of Struggle, Survival and Waiting

Dewi mengecek HP-nya. Ia baca lagi pesan-pesan dari Nay. Belum sekalipun ia membalasnya. Telepon Nay juga belum pernah ia angkat. Ia tahu Nay peduli dan ingin mengetahui kabarnya, tetapi Dewi merasa akan lebih baik jika siapapun dari Kampung Cinderejo tahu keberadaannya.

Pertemuan yang mengejutkan

Dewi memperbaiki rambutnya setelah turun dari sepeda motor ojek online. Ojol atau ojek online begitu mudah didapat. Itu sangat memudahkan Dewi untuk keluar tengah malam sekalipun. Pertokoan masih buka. Dewi melenggang ke satu kafe yang cukup banyak pengunjungnya.

Perempuan itu memasukkan kembali ke dompet hingga tak menyadari seseorang yang juga sedang berjalan ke arahnya. Dompetnya jatuh, dan dewi buru-buru mengambilnya. Perempuan itu bangkit dan mengucap maaf pada sosok di depannya. Namun ia mematung. Perempuan itu hampir tak bisa berkata-kata.

“Dewi?”

Lelaki bersuara berat itu mengejarnya.

“Dewi, tolong berhenti. Kita ngobrol sebentar.”

“Maaf, Pak Sofyan. Saya tidak bisa.” Sahut Dewi sambil berlari menjauh.

‘Dewi. Tolong, beri aku 10 menit saja.”

Melihat Dewi memelankan langkahnya, Sofyan buru-buru mensejajarinya. “Kita ke kafe di seberang sana.”

Dibanding kafe sebelumnya, kafe ini lebih kecil dan lebih sedikit orang yang ada di dalamnya. Suasananya juga lebih mendukung untuk ngobrol. Tidak terlalu hingar-bingar yang memekakkan telinga sehingga bicara saja harus berteriak-teriak.

Cappuccino dan black coffee sudah terhidang di depan mereka. Sofyan mengawali pembicaraan sambil mengaduk kopinya.

“Apa kabarmu, Dewi?”

“Baik, Pak. Bisakah langsung saja, apa yang ingin Pak Sofyan bicarakan?” Dewi sudah mulai gusar. Ia tak ingin perasaannya terseret dan ia tak mampu menghindar.

“Ada rencana aku akan pindah ke San Fransisco. Ke Hayes Valley tepatnya. Ada pekerjaan yang harus ku-handle di sana. Jika memungkinkan, aku ingin menetap di sana.”

Dewi memandang bibir gelas cappuccino, hanya sesekali menatap ke lelaki di depannya. Lelaki yang mati-matian ia hindari.

“Menikahlah denganku. Kita memulai hidup baru bersama anak-anakmu di Hayes Valley.”

Dewi mengangkat kelopak matanya dan menatap penuh rasa terkejut. Ia tak menyangka kalimat itu akan muncul dari Pak Sofyan, lelaki yang sudah sejak lama menaruh hati padanya. Ia tahu Pak Sofyan orang yang baik. Perjaka tua yang memimpin salah satu perusahaan pemerintah di Solo itu sebenarnya sudah lama memenangkan hatinya.

Namun, Dewi sadar siapa dirinya. Ia merasa tak lebih dari sampah yang tak layak dilihat apalagi dihargai sebagai layaknya manusia. Ia sudah membiarkan banyak lelaki menjamah tubuhnya demi bertahan hidup.

“Pak, tapi saya…..”

“Aku tidak peduli masa lalumu, Dewi. Aku ingin kita bersiap untuk masa depan. Aku pun bukan manusia sempurna. Tapi aku mau disempurnakan Tuhan dan aku ingin kita memperbaiki diri bersama-sama.”

Dewi tak melepas pandangannya dari Sofyan. Lelaki itu kali ini berhasil membuatnya menitikkan air mata. Perempuan itu tak mampu menahan tangis, lalu sesenggukan menundukkan kepalanya.

Sofyan meraih tangan dewi. “Menangislah. Tapi setelah ini mari kita menata hidup. Tak ada yang tahu kapan maut menjemput. Apa kamu mau mati sia-sia, tanpa cinta, tanpa hidup yang punya makna?”

See also  Nail Polish Halal Pertama di Indonesia yang Menambah Cantikmu Kian Memancar

Dewi makin tak bisa menahan tangisnya. Berangkat dari rumah tadi ia sudah berniat mencari minimal 3 pelanggan malam ini. Tapi Tuhan mempertemukannya dengan Sofyan. Ia sungguh tak mengira, Tuhan masih menyayanginya.

“Kita bertemu lagi besok. Sekarang kuantar pulang. Ini sudah malam. Tidak baik untuk kesehatanmu.”

Hayes Valley di bulan Mei

“Tidak bisasanya Mei turun hujan di Hayes Valley,” begitu Pak Sofyan bilang saat pertama kali mereka menginjakkan kaki di sana. Lelaki yang genap 4 tahun menjadi suaminya itu kini sudah meninggalkan dia dan 3 anaknya untuk selamanya. Dewi menitikkan air mata sambil memandang keluar jendela.

Empat tahun pernikahannya dengan Pak Sofyan sungguh membahagiakan. Lelaki itu tak hanya mengajarinya menjalankan usaha, tetapi juga mengajaknya selalu bersandar kepada Tuhan, bukan manusia.

Dewi sangat bersyukur karena dua anaknya tidak sulit menyesuaikan diri. Tetangga sebelah kebetulan istrinya orang Indonesia. Dia banyak membantu kedua anaknya belajar berbahasa Inggris setiap hari. Sambil menyuapi anak ketiganya, yang baru berusia 2 tahun, Dewi tersenyum. 2 karyawan kafenya baru saja datang dan mereka melambaikan tangan pada si kecil yang mulutnya belepotan bubur.

Selain kafe yang menyuguhkan kopi single origin dari beberapa daerah di Indonesia, dewi kini juga menjalankan butik baju yang ia jahit sendiri bersama 2 karyawan juga. Suaminya punya kenalan yang membuat butik dan kafenya memiliki pelanggan dalam waktu yang cukup singkat.

Ia sengaja datang lebih awal dari dua karyawannya hari ini, karena akan ada tamu dari Indonesia yang membawakan pesanan kopinya. Biasanya Pak Sofyan menggunakan ekspedisi, tetapi kali ini, karena ada teman beliau yang hendak bertugas di Hayes Valley, teman ini menawarkan untuk sekalian saja ia bawa.

Dewi tak bisa menolak, apalagi ia tahu, Sam, lelaki sebayanya adalah teman yang dipercaya Pak Sofyan selama ini. Dari dia juga ia banyak belajar membuat kue dan roti. Rencananya, jika butik bisa ia percayakan pada 2 karyawannya, ia ingin menambah menu kafe ini dengan kue-kue dan roti lezat resep-resep dari Sam.

Dewi menarik napas panjang lalu pelan menghembuskannya sambil memejamkan mata. Ia sungguh bersyukur karena betapa Tuhan mengasihinya. Dosanya merah, namun IA tetap menurunkan kasih karunia-NYA. Dewi berjanji tak akan mengecewakan-NYA.

Tiba-tiba anak keduanya bertanya, “Mom, apa itu hamartia?”

Dewi tersenyum dan mengelus kepalanya sambil membaca kata yang ternyata jadi salah satu judul di majalah lokal yang sejak tadi dibolak-balik anaknya. “Hamartia itu Bahasa Yunani. Artinya dosa.”

“Dosa itu apa?”

“Dosa itu yang bikin Tuhan sedih.”

“Misalnya apa?”

“Misalnya kalau Gaby dikasih tahu Mommy, tapi gak mau nurut. Nah itu salah satu dosa. Tuhan gak suka.”

Gaby tersenyum, memperlihatkan deretan gigi putih yang belepotan sereal. Anak itu sedang menikmati susu sereal buatan ibunya. Gadis kecil berambut ikal itu lalu bergelayut manja di pangkuan Dewi, melanjutkan acara minum serealnya yang terhenti.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here