Hujan Bulan Juni: Pergulatan Hati yang Kokoh Sekaligus Rapuh

0
163
Hujan Bulan Juni: Pergulatan Hati yang Kokoh Sekaligus Rapuh

Salah satu tokoh sastrawan Tanah Air kembali memunculkan karya terbaru. Novel berjudul Hujan Bulan Juni sukses menyita perhatian publik. Tidak heran sejak terbit di tahun 2015 novel tersebut masih tetap eksis hingga sekarang.

Bahkan belum lama Hujan Bulan Juni diangkat ke layar lebar dan kian menaikan nama besar sang penulis yang tak lain Sapardi Djoko Damono. Seperti yang sudah diketahui Sapardi bukan sosok baru di dunia sastra.

Namanya kerap muncul dengan ragam karya penuh cinta yang menguras tenaga serta air mata. Tidak heran jika nama beliau masuk dalam deretan sastrawan hebat yang dimiliki negeri ini.

Kekuatan Sapardi dalam menulis puisi sekaligus cerita kerap mengundang decak kagum para penikmat sastra. Pria yang identik dengan kacamata ini begitu pandai meramu setiap kata menjadi kalimat menyentuh.

Potret sama tergambar jelas dalam Novel Hujan Bulan Juni. Dimana disini Sapardi tidak hanya menulis mengenai percintaan anak muda yang penuh oleh drama klise. Namun, semua alur percintaan kedua tokoh terbalut konflik besar.

Hingga pada akhirnya pembaca dibuat menebak apa yang akan terjadi? Kegeniusan lain terlihat dari konsep kepolosan dalam penulisan. Sehingga pembaca mampu merasakan apa yang disarakan para tokoh secara jernih.

Poin lain yang juga menjadi keunggulan ialah kepandaian Sapardi dalam mengaitkan konflik yang relevan dengan kehidupan di negara multikultur.

Mengenal Lebih Dalam Sarwono dan Pingkan dalam Hujan Bulan Juni

Sarwono dan Pingkan menjadi sentral penceritaan. Sama seperti orang pada umumnya yang acap kali merasa mabuk kepayang oleh perasaan sayang. Sarwono dan Pingkan-pun berada di posisi seperti itu. Dimana keduanya saling percaya dengan apa yang mereka yakini.

See also  Teknik dan Cara Menulis Novel yang Menggugah Pembaca

Sarwono adalah dosen muda Antropolog di salah satu Universitas ternama di Indonesia. Sedangkan Pingkan dosen muda yang berada di prodi Jepang. Sarwono dan Pingkan menjadi pasangan penuh cinta dan tingkat sayang yang selalu bertambah setiap harinya. Belum lagi kelihaian Sarwono dalam membuat puisi menambah hubungan mereka berada di zona pink.

Sedangkan Pingkan gadis muda keturunan Manado. Ia digambarkan sebagai perempuan pandai, berkulit putih, cantik, sekaligus taat. Nama Pingkan sendiri diambil dari cerita yang sudah melegenda di kotanya.

Pertemuan Pingkan dengan Sarwono dihadapkan pada kemunculan konflik berkepanjangan. Permasalahan ini ibarat benang kusut yang memperlukan waktu panjang untuk menyelesaikannya. Cerita keduanya tak hanya berhadapan dengan rintangan keluarga. Namun, berada pada ujung pengharapan serta perhulatan hati yang mulai tergoyahkan.

Barisan-barisan puisi juga terlihat dibeberapa halaman. Pengambaran nyata perasaan Sarwono pada Pingkan. Dua sejoli ini bukan hanya menikmati percintaan tanpa halangan. Melainkan membangun penguatan hubungan secara bersamaan.

Penuturan jelas dari percakapan antar tokoh membuat pembaca mudah menyelami apa yang dirasakan oleh setiap karakter. Novel setebal 135 halaman tersebut benar-benar mendiskripsikan kejadian secara detail. Apalagi seperti yang sudah diketahui sang novelis terkenal akan pemilihan kata romantis yang tak terduga.

Jadi, jangan kaget ketika Anda mampu merasakan senang dan sedih dalam rentang waktu berdekatan.

Tidak jauh berbeda dari Sarwono. Sosok Pingkan juga menjadi karakter kokoh yang harus berjuang mati-matian mempertahankan apa yang dipercaya. Ketulusannya pada Sarwono membawanya pada gejolak terhendiri di lingkungan keluarga. Sampai pada waktu dimana Pingkan memilih untuk pergi ke Jepang untuk melanjutkan pendidikan.

Perempuan itu merasa perlu melakukan tindakan tegas sebagai upaya memperjelas semua permasalahan yang dihadapi. Namun, tak bisa dimungkiri bahwa keputusan yang diambil membawa dampak psikis menyakitkan bagi Sarwono. Tidak heran jika kemudian Sarwono digambarkan menderita penyakit  yang tak kunjung sembuh.

See also  Secangkir Kopi & Obrolan Ringan Dihari Mendung

Pria ini berada di posisi paling bawah. Sedang gadis yang diharapkan malah pergi menuju negara tempat mantan kekasihnya tinggal. Luka terpendam terasa kian melebar hingga melumpuhkan fisik. Tak tanggung-tanggung penyakit yang diderita mengharuskan ia masuk ke rumah sakit.

Kemunculan Konflik Tak Berkesudahan dalam Hujan Bulan Juni

Berbeda dari cerita cinta yang kerap kali mudah ditebak. Sapardi Djoko Danomo membuat Novel Hujan Bulan Juni penuh akan liku percintaan. Dimana kedua tokoh harus mengalami pertentangan keluarga. Pingkan yang berasal dari Suku Manado dengan kepercayaan Kristen.

Tak tanggung-tanggung ia termasuk perempuan yang taat dan mempercayai agam itu sepenuh hati. Kondisi yang sama dialami oleh Sarwono. Pria itu berasal dari Suku Jawa dan besar di Solo. Dia-pun percaya akan Islam yang sudah terbawa sejak lahir. Keluarga Pingkan mengharapkan untuk hubungan mereka tak dilanjutkan. Sedangkan disisi lain, dua sejoli tersebut kian kuat menjalin pertalian.

Rasa cinta Sarwono pada Pingkan sudah tak perlu dipertanyakan lagi. Begitu yang dirasakan Pingkan pada Pria asal Jawa tersebut. Konflik terus mempuncak saat keluarga mengajukan nama lain untuk mengantikan posisi Sarwono.

Menulisan permasalahan yang sesekali terbumbui oleh puisi sendu penuh derita membuat pembaca akan terbawa oleh perasaan Sarwono. Apalagi saat Pingkan harus kembali melanjutkan studi di Jepang. Tak bisa dimungkiri bahwa hal paling sulit adalah mempertahankan hubungan karena jarak.

Kegundahan hati Sarwono bukan lagi mengenai pertanyaan akan kesetian Pingkan padanya. Melainkan kehadiran Katsuo yang tak lain mantan kekasih Pingkan. Apalagi sebelumnya mereka kembali bertemu di Indonesia.

Katsuo dan Pingkan bahkan terlihat akrab dan semakin dekat. Sarwono merasa kepergian gadisnya ke Jepang akan membuat dirinya jauh lebih kesakitan. Belum lagi ia menderita batuk tak berkesudahan. Penyakit ini yang kemudian membuat Sarwono harus terbaring di rumah sakit.

See also  4 Novel Romantis yang Sukses Buat Baper

Kondisi tersebut bukan hanya bentuk derita dari sebuah rasa sayang pada manusia. Melainkan pergulatan hati yang harus tetap berharap akan akhir bahagia. Namun, apakah Sarwono akan bertahan dengan semua kondisi yang tak memungkinkan?

Novel Hujan Bulan Juni benar-benar mencerita tentang perjalanan panjang sebuah percintaan. Penghabisan daya untuk selalu berjuang. Apalagi ketika yang diperjuangkan memilih jalan lain yang sebenarnya tak perlu dilakukan. Guratan cintah, sedih, sayang, sekaligus derita menjadi satu kesatuan cerita yang memenuhi setiap perkataan di novel bestseller tersebut.

Penulisan tegas dan jernih dari Sapardi Djoko Damono membangun nuansa perbeda untuknya. Seakan belum puas dengan semua perasaan yang tertulis dalam bentuk percakapan ataupun narasi. Sang novelis membumbuinya dengan taburan puisi dibeberapa halaman. Contoh, puisi yang berada di halaman 94:

Katamu dulu kau takkan meninggalkanku. Omong kosong belaka! Sekarang yang masih tinggal, hanyalah bulan yang bersinar juga malam itu. Dan kini muncul kembali (Hujan Bulan Juni: 94). Pembaca masih bisa membaca deretan puisi berisi berbagai pesan yang ditorehkan oleh Sarwono pada Pingkan.

Sampai disini jelas, bahwa novel ini bukan hanya wajib dibaca sebagai refleksi akan kenyataan yang ada di negara penuh budaya. Namun, apresiasi tertinggi untuk karya sastra yang kaya dengan konflik konkrit sekaligus alur cerita rasional melibatkan pemikiran mendalam.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here